Tampilkan postingan dengan label jawa barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa barat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2013

Candi Cangkuang


Candi Cangkuang: Transformasi Spiritualitas di Tanah Sunda

Selain Kompleks Percandian Batujaya dengan corak Buddha, terdapat lagi sebuah candi tunggal yang berdiri di Jawa Barat. Candi tersebut adalah Candi Cangkuang yang hingga kini merupakan satu-satunya candi yang masih ada di Tanah Sunda dengan aliran Hindu.

Candi Cangkuang memang unik dan telah sejak lama kami merencanakan untuk berkunjung. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Ibukota, yaitu di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Dari Jakarta, perjalanan menuju Leles memakan waktu sekitar 3,5 jam dengan rute tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) melewati Cileunyi, Bandung. Bersama dua orang kawan, kami bertiga menjelajah Candi Cangkuang di Garut melalui kendaraan umum dari Jakarta.



Keindahan yang Sakral di antara 6 Gunung
Sabtu pagi itu, sengaja kami berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan. Jalan tol lancar dan ketika kami memasuki Garut, rasa lelah dan bosan di dalam bus berangsur terobati dengan pemandangan yang dihiasi oleh hamparan sawah. Padi telah menguning dan petani tampak tengah memanennya. Kami turun di sekitar alun-alun Kecamatan Leles. Di persimpangan, kami memilih melanjutkan perjalanan dengan andong/delman ketimbang ojek. Sebagai transportasi yang juga diperuntukkan bagi warga lokal, tentu saja kami berbagi ruang dengan beberapa penduduk. Tempat duduk menjadi agak sempit, tapi sepanjang perjalanan kami jadi banyak mengobrol tentang kehidupan di Desa Cangkuang ini yang sebagian besar juga adalah petani. Jalanan desa yang tak begitu lebar, membuat mobil di belakang harus mengalah dengan kami yang berkuda.



Suasana desa masih begitu asri. Para orangtua sibuk menyiapkan panen, sementara yang muda kebanyakan bekerja menjadi pengendara delman atau ojek. Hanya butuh sekitar 15 menit untuk sampai di gerbang objek wisata Candi Cangkuang. Jajaran pedagang sovenir berbaris sepanjang sisi menuju loket tiket, mulai dari replika candi, hingga boneka domba.

Candi Cangkuang berada di tengah Pulau Panjang yang dikelilingi perairan berupa danau yang bernama Situ Cangkuang. Untuk mencapainya, kami harus mengendarai rakit bambu tradisional bersama para pengunjung lain. Pada bagian kiri dan kanan danau, terdapat hamparan teratai. Sayangnya, kami tak beruntung hari itu karena bunga teratai tidak sedang mekar di musim hujan, namun hal itu tak mengurangi keindahan panorama sekitar candi. Situ Cangkuang masih bersih. Pada cuaca cerah seperti ini, kami dapat melihat dengan jelas pantulan rindang pepohonan di Pulau Panjang, juga siluet gunung yang mengelilinginya pada permukaan danau.



Udaranya begitu sejuk dan segar, rasanya sangat tenang ketika rakit mulai didorong menuju Pulau Panjang. Seorang pria setengah baya yang mendorongnya tampak begitu sehat dan kuat, diikuti bocah lelaki yang ikut-ikutan belajar mendorong menggunaka sebatang bambu besar dengan kompak bersama ayahnya. Saya bertanya padanya tentang gunung-gunung yang mengelilingi candi. Selain indah, lokasi ini pula bernuansa sakral. Di ujung sana, Candi Cangkuang menghadap Gunung Gede yang diapit oleh Gunung Guntur dan Gunung Kaledong atau Mandalawangi, katanya. Sementara pada sisi pulau adalah Gunung Haruman (kanan) dan Cikuray (kiri), serta membelakangi Gunung Ciremai (sumber lain menyebutkan Gunung Haruman, Pasir Kadaleman, Pasir Gadung, Guntur, Malang, Mandalawangi, dan Kaledong). Maka, keberadaan Candi Cangkuang tepat di pusat bintang segi enam. Menghadap ke arah tiga gunung utama, seolah menandakan Trimurti atau 3 dewa utama, yaitu Dewa Siwa, Wisnu, dan Brahma. Bagi masyarakat Sunda Kuno atau masa sebelum, saat, dan bahkan paska-Kerajaan Sunda (Sunda Wiwitan), Gunung Gede memiliki makna spiritual yang besar. Ia melambangkan keagungan, kekuatan, kehancuran, dan juga penciptaan. Metafor Dewa Siwa atau “Supreme Being” terhadap Gunung Gede tentu menjadi bukan tanpa alasan, sebab banyak kehidupan lahir, hancur, dan lahir kembali dari gunung dengan ketinggian hampir 10 ribu kaki yang menyimpan ribuan jenis keanekaragaman hayati terkaya di Pulau Jawa.



Kami berjalan mengikuti jalan setapak mengelilingi pulau. Melintasi kembali lapak dan warung-warung yang menjual sovenir dan makanan. Kemudian, memasuki kampung kecil yang hanya diisi oleh 6 rumah panggung khas Sunda (tak boleh ditambahkan atau dikurangi) yang saling berhadapan simetris dengan sebuah masjid kecil di ujungnya. Kampung adat ini bernama Kampung Pulo. Candi Cangkuang terletak di atas tangga setapak.

Menjadi Pusat Ajaran Agama Baru
Di antara rindang pepohonan besar, Candi Cangkuang tampak gagah, sekaligus feminin. Dari kejauhan, ia tampak bagai Candi Prambanan atau pura, hanya saja lebih sederhana dan polos. Tak terlihat ukiran maupun relief pada kaki, badan, dan kepala candi. Nama “Cangkuang” pada Candi Cangkuang berasal dari tanaman cangkuang (Pandanus furcatus) yang tumbuh di sekitar candi bersamaan dengan beringin. Candi Cangkuang ditemukan 9 Desember ’66 berdasarkan catatan sejarah arkeolog Belanda (laporan Vorderman tahun 1893). Proses penggaliannya memakan waktu hampir 2 tahun setelahnya. Pada 8 Desember ’76, candi selesai dipugar dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu. Hanya 40% bagian candi yang asli, sisanya adalah hasil rekonstruksi dengan tambahan andesit dan granit untuk memperkuat strukturnya.



Kini, hanya terdapat satu arca Siwa yang ditaruh di dalam candi. Bentuknya tak lagi sempurna dengan kondisi bagian pinggang yang patah. Saat ditemukan, arca berada dekat dengan nisan Embah Dalem Arif Muhammad yang terletak di sisi kiri. Dahulu, para peziarah yang berdoa selalu mencoba mengangkat arca tersebut sebagai tanda apakah permohonannya terkabul atau tidak.

Tak banyak informasi detil tentang candi yang diduga berasal dari abad ke-7 atau ke-8 masa Kerajaan Sunda I. Catatan sejarah dan kisah justru banyak terkait sosok Arif Muhammad yang kuburannya berjarak 3 meter dari candi. Beliau dikaitkan sebagai penyebar agama Islam pertama di Garut dan sekitarnya.



Arif Muhammad adalah tentara utusan Mataram yang ditugaskan untuk mengusir Belanda dari Batavia sekitar abad XVII. Kegagalannya, tak membuatnya pulang dengan tangan hampa. Bersama pengikutnya, ia justru bersembunyi area sekitar candi. Danau yang mengelilingi Pulau Panjang, dikisahkan dibuat oleh Arif Muhammad dan pengikutnya. Di sinilah ia menyebarkan agama dan membangun pusat ajaran Islam di antara masyarakat Hindu dan Buddha di Tanah Sunda. Pada museum sederhana di dekat candi, kita bisa melihat banyak temuan lembaran kitab berisi ayat-ayat Alquran dari kulit kayu. Berangsur-angsur, masa itu kuil Hindu pun berubah menjadi kawasan layaknya pesantren. Enam rumah yang ada di Kampung Pulo dulu dipakai sebagai tempat mengkaji dan mengaji Islam. Enam melambangkan 6 anak perempuan Arif Muhammad, sementara satu bangunan masjid mewakili putranya yang meninggal (total menjadi 7 bangunan). Sampai sekarang rumah tersebut masih ditinggali oleh generasi ke-8 hingga ke-10 dari keturunan sang Kyai. Uniknya, hanya perempuan-lah yang boleh memiliki rumah (hak waris).



Pak Umar sebagai penjaga candi sekaligus generasi ke-9, banyak bercerita kepada kami. Tak ada hewan ternak, terutama yang berkaki empat di Pulau Panjang. Selain alasan takut merusak sawah-ladang dan mengotori makam-makam kuno, juga karena sapi sebagai kendaraan Siwa (Nandi). Kini, hampir tak ada lagi warga Desa Cangkuang yang menganut Hindu.

Sebelum candi dipugar, telah banyak peziarah datang dengan berbagai latar belakang agama dan permohonan yang datang untuk berdoa. Bagi penduduk lokal, candi hampir tak lagi memiliki makna sakral. Doa-doa dipanjatkan kepada mendiang Embah Dalem Arif Muhammad. Meski begitu, umat Hindu dan Buddha kerap datang berdoa di candi yang dikelilingi oleh hamparan makam kuno dan dihuni oleh kelelawar raksasa.

Ritual yang masih dilakukan warga Kampung Pulo adalah pencucian pusaka dari 7 mata air (6 dari rumah dan 1 dari masjid) saat malam Maulid Nabi (12 Rabiul Awal). Banyak cerita tentang berbagai penampakkan di sekitar candi, pemakaman, maupun pohon-pohon besar di sini. Namun, warga setempat selalu memiliki banyak cara untuk melindungi warisan leluhurnya.

Hingga sekarang, bentuk sebenarnya dari Candi Cangkuang dan lingkungan kuil Hindu ini masih menjadi teka-teki yang menunggu untuk ditemukan. Sementara itu, sosok Arif Muhammad dan Candi Cangkuang merupakan sejarah yang tak dapat dipisahkan dari spiritualitas dan religiusitas masyarakat Sunda kini dan nanti, khususnya bagi orang Garut.

Sumber:
Wawancara santai dengan Pak Umar di area Candi Cangkuang pada Sabtu, 26 januari 2012.

How to travel:
-      Dari Jakarta, perjalanan dapat dilalui dengan tol Cipularang selama 3,5 jam menuju arah Cileunyi, Bandung menuju Garut.
-          Dengan kendaraan umum, menaiki bus Primajasa jurusan Lebak Bulus-Garut (AC Ekonomi) dengan tarif Rp 35 ribu. Atau dari Cileunyi, Bandung dapat menaiki bus yang sama atau kendaraan lain menuju Garut dengan tarif sekitar Rp 12 ribu. Hati-hati jika naik bus lain dari Jakarta karena bisa jadi ia tak melewati tol Cipularang dan malah memakan waktu hingga 7 jam untuk sampai Leles.
-          Sesampainya di Garut, turun di persimpangan/alun-alun Leles (tak jauh dari SMAN 2 Garut) menuju Candi Cangkuang di Desa Cangkuang. Perjalanan dapat dilanjutkan dengan andong, tarif Rp 4 ribu untuk 5 penumpang (Rp 20 ribu satu kali jalan) atau ojek Rp sekitar Rp 10-15 ribu.
-        Tarif tiket masuk hanya Rp 2 ribu untuk anak-anak/pelajar, Rp 3 ribu untuk dewasa, dan Rp 5 ribu untuk turis asing.
-      Untuk menuju Pulau Panjang menggunakan rakit dengan tarif Rp 4 ribu untuk 20 orang. Biasanya, jika kesulitan menunggu penumpang lain, dapat langsung tawar-menawar di kisaran harga Rp 45 ribu (PP dan ditunggu).
-     Hati-hati terhadap penipuan yang menawar mengantar rakit, pastikan siapa yang akan mengantar-jemput di candi.
-        Donasi untuk perawatan situs atau jasa pemandu lokal sangat disarankan, tetapi pertimbangkan untuk memberikan uang pada pengemis atau warga yang meminta-minta pada turis untuk tujuan yang tak jelas.
-        Karena menjadi area yang sakral, jagalah sikap dan hati-hati saat berkeliling di area candi agar tidak menginjak atau merusak nisan kuno.

What to see:
-          Tak jauh dari lokasi wisata Candi Cangkuang terdapat kebun binatang kecil di dekat desa. Mintalah diantar ojek atau kusir delman untuk mengantar.
-          Karena berada di dataran tinggi yang dikelilingi oleh gunung-gunung, lokasi terbaik untuk foto ada di dermaga rakit yang memberikan pantulan dan siluet panorama terbaik.
-     Di dalam Pulau Panjang di mana candi berada, terdapat Kampung Adat Pulo (area konservasi), Makam Arif Muhammad, museum sederhana, dan kompleks pemakaman kuno maupun baru.
-      Ada banyak warung yang menjajakan sovenir dan makanan. Untuk penjualan sovenir, Anda dapat menawarnya.
-        Silakan mampir di Rumah Makan Sari Cobek di Pelataran Parkir Candi Cangkuang (0262-455 557) untuk menikmati hidangan Sunda dengan nuansa saung tradisional beratap ijuk di atas kolam ikan. Suasananya begitu teduh dan tenang. Makanannya pun sangat enak dengan harga tidak terlalu mahal (Rp 21 ribu untuk nasi timbel komplit dengan teh tawar hangat). Mereka juga menyediakan penginapan per kamar atau per rumah dengan harga mulai dari Rp 400 ribu.

Candi Batujaya


Kompleks Percandian Batujaya: Jejak Peradaban Agung di Jawa Barat


Tak banyak memang penemuan candi di lokasi Jawa Barat seperti halnya di kawasan Jawa Tengah, Jogja, maupun Jawa Timur. Tetapi, bukan berarti tidak ada. Apalagi mengecilkan nilai sejarah-budaya dari Jawa Barat itu sendiri yang sebenarnya memiliki peradaban yang tak kalah pentingnya dari kawasan lain di Nusantara, pula perannya bagi hubungan dan perdagangan internasional berabad-abad silam.

Kali ini, kami bertolak menuju kawasan yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Barat, yaitu Karawang. Dari Jakarta, akses dan transportasi publik menuju Karawang, tidaklah sulit. Pagi-pagi sekali, kami berangkat dengan bus menuju Karawang. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan berupa hamparan sawah yang telah menguning. Para petani pun tampak sibuk memotong padi.

Kompleks Percandian Batujaya mencakup area seluas 5 km2 di wilayah administrasi Desa Segaran, Kec. Batujaya dan Desa Telukbuyung, Kec. Pakisjaya (semula Desa Telagajaya, Kec. Batujaya) Kab. Karawang, Jawa Barat. Terdapat lebih dari 20 reruntuhan bangunan bata yang meliputi persawahan dan perkampungan penduduk. Sebagian besar situs masih berupa gundukan tanah berupa bukit-bukit kecil dengan tinggi 1-4 meter, yang oleh penduduk sekitar kerap disebut unur (bukit kecil) dan dianggap keramat. Berbeda dengan candi lain yang biasanya ditemukan dan direkonstruksi oleh Belanda pada masa kolonialisme, Percandian Batujaya pertama kali ditemukan tahun 1984 oleh tim Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Univ. Indonesia (UI).

Candi Jiwa
Udara yang panas dan kering terbawa oleh hembusan angin hingga terasa di kulit kami. Begitu sampai di pintu masuk lokasi percandian, kami mengisi buku kehadiran. Tak ada tiket masuk, hanya donasi seikhlasnya. Untuk menuju lokasi candi yang terletak di tengah-tengah persawahan, kami hanya tinggal mengikuti sebuah jalan setapak terbuat dari beton yang menghubungkan pengunjung dan candi.




Sebelumnya, masyarakat menyebutnya sebagai Unur Jiwa (Bukit Jiwa). Kini, menjadi Candi Jiwa, terletak tak jauh dari tempat kami mengisi buku tamu. Unur yang semula ditumbuhi pohon pisang dan palawija ini merupakan yang pertama kali mengalami ekskavasi tahun 1985 oleh tim arkeologi dari UI.

Saat ini, Candi Jiwa tak lagi utuh, namun menyisakan bagian kaki berupa persegi dengan ukuran 19 x 19 m (diamond shape) dengan tinggi yang tersisa sekitar 4,7 m dan terbuat seluruhnya dari bata merah. Meski telah berwarna redup agak kehitaman, namun warnanya yang kontras di antara sawah, membuatnya terlihat begitu spesial dan menyala di bawah terik langit yang biru.



Tak ada tangga pada Candi Jiwa. Bentuknya yang bujur sangkar (wajik) mengingatkan kami pada Candi Sumberawan. Pada bagian atas, terdapat sisa lingkaran berdiameter 6 m yang diduga adalah bentuk stupa yang kini telah hilang. Di sinilah biasanya tersimpan relik Buddha, sehingga memiliki makna spiritual yang tinggi. Keberadaan stupa juga menguatkan fungsi candi sebagai bangunan sakral pemujaan, sekaligus coraknya yang berlanggam Buddha. Biasanya, peribadatan yang dilakukan untuk tipe candi stupa adalah berupa pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi candi (yang menjadi patha atau garis edar) sebanyak tiga kali searah jarum jam sambil membaca sutra dan mantra (doa). Ritual kuno ini masih dilakukan hingga sekarang. Pada Perayaan Trisuci Waisak, umat Buddha kerap datang kemari untuk melakukan pradaksina. Sejumlah inskripsi berbahasa Palawa dan Sansekerta juga ditemukan di sekitarnya. Sebagian adalah bata, sebagian lainnya berupa lempengan emas yang menuturkan Karma dan Dharma.

Candi Blandongan
Cuaca hari itu begitu cerah. Angin masih terasa hangat dan awan putih mengepul pada langit biru. Kami melanjutkan berjalan mengikuti jalan setapak berbeton di tengah sawah. Di ujung sana, adalah Candi Blandongan. Warnanya merah pada bangunan batu bata tersebut begitu terlihat menonjol, juga megah. Ukurannya tampak jauh lebih besar dari Candi Jiwa.



Candi yang disebut masyarakat sekitar sebagai Unur Blandongan ini juga tidak menyisakan bangunan yang utuh. Denah bujur sangkar pada bagian kaki berukuran 25 x 25 m, sedangkan sisa bagian tengah hanya 10 x 10 m. Pada setiap sisi candi, terdapat tangga naik dan pada badan candi juga terdapat lantai yang dilapisi dengan beton stuko (serta adukan kerikil). Tidak hanya lantai, pada bagian dinding ditemukan pula lepa stuko.

Candi Blandongan merupakan satu-satunya candi di Batujaya yang masih memiliki bagian badan candi. Di sekitarnya, telah ditemukan banyak sekali peninggalan berupa, perhiasan, materai terakota, gerabah, serta inskripsi dengan corak yang mirip dengan seni patung dan pahat pada situs maupun candi di Nandala. Beberapa patung yang menggambarkan sosok Buddha pun memiliki kemiripan dengan sosok Buddha di kawasan Thailand.



Pada bagian-bagian tertentu, para peneliti menemukan adanya relung-relung yang kemungkinan adalah struktur kayu untuk tiang, pintu, dan jendela. Kemungkinan ini diperkuat dengan ditemukannya sisa-sisa arang yang membawa pada kesimpulan bahwa candi pernah mengalami kebakaran dan kemudian dibangun kembali (fase kedua diduga sekitar 980 M) seperti bentuknya yang sekarang berupa penebalan bagian kaki, penambahan tangga, dan peninggian candi. Selain sisa pembakaran kayu, ternyata terdapat pula sisa pembakaran padi yang membuktikan kehidupan agraris masa itu.

Seorang pedagang makanan kecil dan minuman dingin di dekat Candi Jiwa, sempat bercerita pada kami mengenai adanya penampakan sosok dewi yang muncul bersama para pengikutnya di Candi Blandongan. Namun, kisah-kisah mistis dan spiritual di kawasan Percandian Batujaya, tak lagi diceritakan karena benturan pada nilai-nilai agama yang kini dianut. Meski tak ada sistem keamanan yang ketat, tapi warga sekitar tak ada yang berani mengambil bagian candi apalagi benda-benda berharga lainnya yang ditemukan di sekitar candi. Hal ini disebabkan, sebelumnya banyak orang yang mengambil atau memindahkannya, kerap tertimpa bencana, mulai dari sakit, kecelakaan, hingga meninggal dunia. Sehingga, masyarakat percaya untuk melindungi berbagai candi dan situs dengan tetap membiarkannya seperti apa adanya.

Berbekal petunjuk dari satu-satunya pedagang kecil tersebut, lalu kami memberanikan diri untuk keluar dari jalan setapak beton dan berjalan menembus persawahan menuju situs candi lainnya.

Saat itu, persawahan di sekitar candi tengah mengalami gagal panen. Tanahnya mengering agak keras dan bulir-bulir pada menjadi kosong. Pada tepian sawah, kami menuju Situs Segaran II (Unur Lempeng) yang berupa gundukan kecil yang ditanami pohon kelapa, pisang, dan rumput. Di sini, kami menemukan banyak sekali bata dan batu berserakan di mana-mana, juga terdapat sumur tua dengan air yang sangat jernih dan segar.



Berjalan lurus ke arah barat, kami kembali menembus persawahan di mana kami menemukan lagi sebuah candi. Masyarakat menyebutnya Unur Serut. Candi terbuat dari bata dan menyisakan bagian kaki yang tergenang air. Lokasinya bersebelahan dengan rumah penduduk. Sejumlah bebek berlarian dari genangan air pada candi ketika kami mendekat. Masih dengan rasa penasaran, kami pun bertanya pada seorang perempuan paruh baya yang kami temui mengenai lokasi lain dari situs-situs percandian. Ia pun mengantar kami untuk berjalan lurus saja ke arah barat mengikuti jalan setapak desa yang bertanah dan – yang membuat kami kaget pada sisi jalan tertentu – berbata merah besar mirip lantai candi.

Kami menemukan lagi sumur kecil tua berdinding bata, serta unur-unur lainnya yang menyatu dengan persawahan, pemakaman, bahkan rumah-rumah penduduk.



Sebaran yang sporadis dan terkesan tak berpola pada Kompleks Percandian Batujaya ternyata memiliki kemiripan dengan Kompleks Percandian Muarajambi dan Kompleks Wihara Anuradhapura di Sri Lanka. Dari analisis stratigrafi di sana, lokasi percandian ternyata mencakup dan menggambarkan 4 strata budaya: pra-sejarah, peralihan, Hindu-Buddha, dan paska-Hindu-Buddha.

Era pra-sejarah ditandai dengan penemuan budaya Buni, yaitu masyarakat yang pertama kali berada di pantai utara Pulau Jawa bagian barat. Kesenian pada mas ini adalah kreasi gerabah yang banyak ditemukan di sekitar lokasi percandian. Masa perundagian di Batujaya diduga sekitar 1.000 SM hingga 500 M. Sedangkan masa peralihan menjadi titik dimulainya kontak masyarakat Buni dengan budaya India (yang kental dengan nuansa Hindu-Buddha) di mana akulturasi kemudian berproses sekitar abad ke-2 hingga ke-4. Memasuki periode Hindu-Buddha, memunculkan kelahiran kerajaan tertua di Jawa: Tarumanagara tahun 450 (sekitar abad ke-5). Keterkaitan Tarumanagara pada fase kedua (sekitar abad ke-8) dengan kebudayaan dan spiritualitas Buddha, menguat dengan adanya corak kesenian Nalanda yang kemungkinan masuk melalui Sriwijaya sebagai pusat ajaran Buddha,sekaligus kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara. Tarumanagara adalah pintu masuk bagi Sriwijaya memperluas kekuasaan (juga sebaran pengaruh Buddha).



Menarik. Meski mungkin sebagian pengunjung merasa tak begitu antusias atau kecewa dengan bangunan candi yang tak utuh dan masih berupa reruntuhan, bahkan gundukan tanah saja, namun kekayaan sejarah yang terkandung pada Kompleks Percandian Batujaya menjadi bukti nyata keagungan peradaban masyarakat Jawa Barat. Bagi kami, keindahan dan makna dalam pada candi-candi di sini, memiliki definisinya tersendiri yang membuatnya berbeda dari candi lainnya di Nusantara.

Aliran Sungai Citarum yang berada di dekat candi, hingga saat ini masih lekat dengan kehidupan agraris masyarakat Karawang. Perjalan pulang kami kembali dihiasi dengan hamparan sawah dan kesibukan para petani memasuki masa panen. Beberapa kali, kami melihat keramaian di pinggir jalan berupa arak-arakan anak kecil yang habis disunat duduk di atas sisingaan sambil diiringi musik tradisional serta akrobat dan tari-tarian. (Nurdiyansah)

What to see:
-          Selain berbagai situs yang sarat makna sejarah dan budaya, tak banyak hal bisa kita kunjungi di sekitar Kompleks Percandian Batujaya. Karena lokasinya yang sporadis, kunjungan ke berbagai situs percandian memerlukan petunjuk masyarakat sekitar. Meski hanya berupa reruntuhan bata, namun karena lokasinya yang berada di tengah persawahan, perjalanan ke situs-situs tersebut menjadi menarik karena bersentuhan dengan kehidupan agraris Karawang.
-          Tak jauh dari lokasi pengisian buku tamu, terdapat sebuah museum kecil bernama Museum Batujaya. Meski hanya memiliki sebuah ruang pamer, namun museum tetap memiliki peran dan fungsi yang penting sebagai tempat penyimpanan benda-benda percandian dan penafsiran kehidupan masyarakat Batujaya di masa lalu.

How to get there:
-          Dengan kendaraan umum, perjalanan menuju Batujaya, Karawang dapat menggunakan bus apapun yang menuju Karawang, salah satunya adalah Bus Agra (warna merah) non-AC jurusan Tanjung Priuk-Karawang dengan ongkos Rp 9 ribu. Sesampainya di lingkar (lampu merah) Terminal Tanjung Pura, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan kecil yang menuju terminal dengan ongkos Rp 1.000 atau bisa jalan kaki. Dari terminal, naik angkutan jurusan Rengasdengklok (Rp 5 ribu) hingga Pasar Dengklok di mana bisa kita temukan angkutan ke Batujaya hingga kendaraan berakhir. Kemudian dilanjutkan dengan naik ojek (Rp 10 ribu) menuju kompleks percandian Batujaya. Total perjalanan (dilakukan pada hari Minggu pagi dan tanpa macet) sekitar 4 jam. Penghambat perjalanan dengan kendaraan umum adalah kebiasaan angkutan untuk “ngetem” (menunggu penumpang hingga penuh).
-          Alternatif lain adalah melalui rute Cikarang (hanya sekitar 3 jam, saat hari Minggu tanpa macet). Dari Jakarta, perjalanan ditempuh dengan menaiki bus apa saja menuju Cikarang, salah satunya bus Mayasaribakti Patas 121 jurusan Blok-M-Cikarang (Rp 9 ribu). Dari terminal dilanjutkan dengan mini bus “elep” menuju Jl. Baru, Batujaya (Rp 10 ribu), lalu ojek ke kompleks percandian Batujaya (Rp 10 ribu).
-          Untuk memastikan jalur dan angkutan setelahnya, sebaiknya bertanya kepada penumpang, kenek, atau supir agar tidak terlewat dan tahu tepatnya lokasi di mana akan naik kendaraan selanjutnya.